Langsung ke konten utama

Nusantara Yang Selalu Terjajah (kado untuk Hari Kemerdekaan Ri ke 63)

Konon, jauh sebelum munculnya peradaban Yunani, dunia mengenal sebuah negeri adidaya yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Negeri panutan bernama “Atlantis” itu, menurut beberapa ahli sejarah, berada di semenanjung Asia lama, yang kemudian dikenal dengan kawasan Nusantara.

Mitos kejayaan nusantara lama itu, pernah diungkapkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqie, dalam peringatan “Hari kebangkitan Nasional” beberapa waktu lalu. Nusantara memang kaya dengan kegenda, yang bercerita tentang majunya peradaban sebuah Negeri yang tersebar di seantero wilayah yang subur dengan ekonomi agrarian, kelautan dan perdagangan. Tarumanagara, Samudera Pasai, Padjajaran, Majapahit, Demak Bintoro, Mataram, Banten, dan Cirebon, adalah sebagian dari ribuan kerajaan yang tercatat dalam tinta emas sejarah, pada rentang waktu sekitar 700-1700 Masehi.

Tiga abad lebih setelahnya, kejayaan negeri yang dikenal gemah-ripah loh jinawi itu kemudian sirna, karena perang saudara dan rakusnya penjajahan. Setelah melepas diri dari penjajahan, dan membentuk Negara Republik, bernama Indonesia, sejak 63 tahun lalu, bangsa ini tak kunjung beranjak dari penrjajah.

Kerdilnya jiwa bangsa ini tercermin dalam pertentangan ideologis yang terjadi di negeri ini, sejak awal kemerdekaan. Dan pertentangan ideologis itu, ternyata tak pernah sepi dari kepentingan pihak asing. Dulu, Soekarno merangkul Komunisme, sebagai strategi pendekatan terhadap Uni Sovyet dan China. Pahlawan Proklamasi itu, kemudian mengusung Nasionalisme,Agama dan Komunis (Nasakom), sebagai ideology cultural. Sebuah Ambivalensi yang berbuah perpecahan bangsa. Soeharto, juga mengadopsi ideologi pembangunan Amerika, dengan wacana Developmentasi yang kemudian kandas sebelum tinggal landas. Kebijakan ekonomi yang diambil Soeharto, tak terhindar pula dari intervensi asing, yang menghasilkan setumpuk hutang kepada IMF dan Bank Dunia.

Kini, setelah hampir sepuluh tahun rezim orde baru terguling, pemerintah Indonesia tak pernah sampai hati menepis intervensi asing. Terlepasnya Timor-Timor, penguasaan blok Cepu, hingga direbutnya Sipadan dan Ligitan oleh negeri jiran, dan pembangunan pangkalan udara Malaysia di wilayah perbatasan yang mestinya dinetralkan, sampai surat dari Senat Amerika terhadap Presiden, yang meminta dilepasnya para sparatis Papua, menjadi bukti betapa lemahnya kita di mata negara-negara lain.

Ironisnya, tak hanya pemerintah yang kini dikuasai Bangsa Asing. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi keagmaan, hingga partai politik, juga terjerat untuk memperjuangkan kepentingan pihak asing. Neo Liberalisme, sparatisme serta Terorisme dan Fundamentalisme agama yang semakin marak, konon dibiayai berbagai perusahaan dan organisasi transnasional yang memilih budaya dan ideology sebagai jalur penjajahan untuk kemudian mengeruk keuntungan kelompoknya. Yang lebih mengerikan, cengkerman kapitalisme juga tak mampu ditepis oleh pemerintah, memilih berpihak pada pengusaha, ketimbang kepada rakyat jelata.

Globalisasi, memang sulit dihindari, tetapi seharusnya bangsa ini sadar, bahwa kita memiliki akar kebudayaan dan ideologis serta tradisi ekonomi yang telah merakyat sejak berbad lalu. padahal sesungguhnya, para pendiri republik ini sadar akan hal tersebut, mereka merangkumnya dalam Pancasila. Jika saja Pancasila diterapkan dalam setiap aspek kebijakan pemerintah, maka bangsa ini dapat berkompetisi dengan peradaban dunia lainnya. Ya, globalisasi tak perlu dihindari, kita tinggal menggali kearifan lokal yang terdapat dalam ribuan tradisi dan budya yang terdapat di negeri ini, untuk kemudian dikembangkan sebagai kekayaan pariwisata yang akan menarik minat wisatawan asing. Kekayaan alam yang tersisa juga akan bermanfaat untuk kemakmuran rakyat, jika manajemen ekonomi kerakyatan yang terkonsep dalam koperasi dan prinsip ekonomi pancasila dijalnkan dengan baik. Perpecahan bangsa karena beragam ideology juga tentu akan dihindari dengan falsafah yang sama.

Sayangnya, para pemimpin negeri ini, hanya pandai bicara tentang tingginya nilai-nilai pancasila, tanpa mau mengimplementasikan dalam praktik yang nyata. Jika kedaan ini terus berlangsung, maka sampai kapanpun, bangsa ini selalu terjajah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…