Langsung ke konten utama

Kisruhnya Orientasi Mahasiswa Baru

Beberapa waktu lalu, sempat terjadi perselisihan di internal panitia Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) IAIN Banten. Sebuah aral yang bisa jadi akan memicu sengketa serius antar Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus (OKIK) itu adalah tradisi tender yang lumrah terjadi dalam hajat tahunan pasca penerimaan Mahasiswa baru.

Tender, alokasi dana kegiatan, dan insentif panitia adalah remah-remah kecil yang sering menimbulkan kecemburuan, dan perselisihan, bahkan mewariskan dendam diantara anggota OKIK. Muaranya adalah pemanfaatan dana sisa Orientasi, yang kadang mengabaikan kesejahteraan dan kepuasan peserta Orientasi.

Ironi yang muncul setelah fase kecemburuan dan ketidakpuasan panitia, biasanya adalah dua sikap dekonstruktif. Yakni sikap apatis, baik secara personal maupun kolektif, dan atau tradisi saling hujat yang berujung pada provokasi kepada peserta agar melakukan konfrontasi terhadap panitia inti orientasi. yang tentu keduanya tentu saja merisaukan bagi para panitia inti dan pejabat eksekutif mahasiswa.

Kenyataan inilah yang terjadi dalam setiap pelaksanaan orientasi mahasiswa baru, dari tahun ke tahun. Mengapa ini terjadi? Baiknya kita diskusikan bersama. Dan saya ingin coba membahasnya dari beberapa sudut; historis, psikologi, ideology pasar dan politik yang kesemuanya –mungkin- berandil besar dalam kondisi tersebut.

Pertama, kita melihat pelaksanaan orientasi tahun lalu misalnya, beberapa perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), secara kolektif, sempat mengundurkan diri dari kepanitiaan Orientasi. Mundur karena melihat ada ketimpangan peran dan kinerja antara panitia dari BEMI dengan panitia dari UKM. Kisuh internal itu diperparah dengan ketidakstabilan emosi seorang panitia bagian Orlap, yang kebetulan aktif di UKM. Kelelahan yang sangat, -menurut, pengakuannya- membuatnya bersikap tidak strategis, dengan membawa benda tajam ke area orientasi. Berbulan kemudian, setelah orientasi usai, panitia inti orientasi didemo mahasiswa baru, yang menuntut laporan pertanggung jawaban panitia, dan pemenuhan fasilitas orientasi, berupa sertifikat. BEMI menjadi bulan-bulanan, lima mahasiswa baru saat itu, membakar ban bekas di depan kantor BEMI, dan ruangan BEMi yang baru dicat, menjadi korban coretan jorok bernada ejekan dari mahasiswa angkatan 2007.

Setahun sebelumnya, kisruh internal juga terjadi. Dipicu oleh pelanggaran terhadap tata tertib orientasi, mengenai keharusan mengenakan celana panjang bagi seluruh peserta. Beberapa peserta perempuan, karena alasan ideologis menentang dan melanggar peraturan tersebut. Sebagain panitia bersikukuh mengnginkan peraturan ditegakkan, dan beberapa panitia lain, dari tataran panitia pengarah, justru melihat sisi lain dari pelanggaran tersebut, yakni sikap kritis peserta dan toleransi serta perlindungan atas keyakinan yang dianut setiap mahasiswa. Kisruh itu berimbas pada keributan kecil antar peserta dengan panitia, dan lagi-lagi berujung pada demonstrasi. Memang tidak ada problem tender dalam kasus ini, karena tender dilakukan terbuka. Tetapi sikap provokatif beberapa panitia terhadap peserta, untuk menentang aturan yang berlaku saat itu, disinyalir menjadi biangnya.

Yang lucu justru terjadi pada tahun 2005, orientasi mahasiswa baru diboikot oleh beberapa kalangan UKM, alasannya sepele, porsi keterwakilan UKM dalam kepanitiaan diperkecil oleh BEMI. Al-hasil, UKM menggelar Orientasi tandingan dengan nama 'Kelakar'. Orientasi resmi yang diadakan BEMI pun menjadi sepi, karena sudah menjadi rahasia umum, bahwa orientasi menjadi meriah ketika semua UKM berkompetisi menampilkan kreasi terbaiknya.

Dan di tahun 2004, kekisruhan juga dilakukan peserta. Arogansi panitia ditambah sedikit bisikan dari beberapa mahasiswa lama, yang tidak terlibat dalam kepanitiaan, rupanya cukup efektif memprovokasi mahasiswa peserta orientasi saat itu. Dan kali itu tak cuma BEMI yang menjadi korban, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) pun harus rella kantornya diacak-acak oleh sepasukan mahasiswa yang menamakan diri GSM. Saat itu, sempat tersiar kabar, bahwa keterlambatan pembagian sertifikat memang disengaja, untuk menguji daya kritis mahasiswa baru.

Jika demikian, bukan tidak mungkin, tradisi demonstrasi mahasiswa baru terhadap panitia orientasi juga terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Sebab –dari sudut psikis- beberapa mahasiswa lama, baik yang terlibat sebagai panitia maupun tidak, cenderung senang membakar emosi mahasiswa baru, dan mahasiswa baru, yang dipenuhi rasa penasaran, tentu juga ingin mencoba asiknya berdemonstrasi.

Apabila dikaitkan dengan ideologi politik, kita dapat meminjam teori sosialisme dalam melihat kasus-kasus yang ada. Bahwa pertentangan kelas dalam prilaku sosial, akan selalu terjadi ketika terjadi ketimpangan relasi dalam sebuah lingkungan sosial. Ya, hampir dalam setiap acara orientasi anggota baru dalam sebuah komunitas, yang cenderung mengedepankan strata dan relasi yang struktualis. Selalu ada sekat antara yang lama dengan yang baru, sekat yang masyhur disebut senioritas!

Relasi senior-junior yang timpang, biasanya memunculkan korban. Dan yang dikorbankan, biasanya sang junior. Maka jangan heran jika dalam sebuah pengkaderan, muncul jargon, bahwa "panitia tidak pernah salah, jikapun salah, panitia selalu benar!" kondisi tersebut seakan dilestarikan. Sehingga dalam beberapa kasus, penerimaan anggota baru, selalu identik dengan perpeloncoan yang dibumbui kekerasan fisik maupun psikis.

Dari segi ekonomi, orientasi pengenalan mahasiswa yang melibatkan ratusan peserta, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para homo economicus, yang melihat sesama manusia dari kacamata pasar. Ya, orientasi dan event-event lain yang mensyaratkan pesertanya untuk membiayai pelaksanaan acara, memang tak sepi dari 'kepentingan pasar' sang pengelola acara. Banyaknya panitia, sebanding dengan banyaknya pendapatan! Dan pendapatan pengelola, bergantung pada seberapa mampu ia mengolah event. Jika dikaitkan dengan ideologi pasar yang berkembang saat ini, maka ada dua teori yang sedapat mungkin dianut oleh para pelaku ekonomi dunia saat ini. Yakni kapitalisme, dan sosialisme.

Penganut kapitalisme, memandang pasar sebagai media pencari keuntungan belaka. Setiap pribadi dan isntitusi berhak mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan kapitalisme, biasanya memandang konsumen (dalam hal ini, peserta) sebagai obyek belaka. Kepuasan konsumen, disesuaikan dengan daya belinya. Dan sang pengelola pasar, dengan segala cara, harus berkeuntungan lebih besar. Seperti, kata Lenin, "Kapitalisme menghasilkan Kolonialisme baru", maka penganut kapitalisme lebih mirip penjajah, yang memandang konsumen dan pesaing pasar sebagai obyek pemerasan.

Sosialisme menawarkan teori lain. Bagi seorang sosialis, pasar ada untuk pemerataan pendapatan. Maka sedapat mungkin kebijakan dibuat untuk kepentingan bersama. Bahwa jaminan sosial yang maksimal, lebih penting dari sekedar mengeruk keuntungan. Dan kadang, sosialisme tidak memberi pilihan yang banyak bagi pelaku pasar. Semua kebijakan dibuat untuk kepentingan Negara (dalam hal ini, keluaga besar mahasiswa). Para pelaku pasar, baik produsen/pengelola, maupun konsumen, kadang dibiarkan merugi.

Lantas bagaimana dengan pelaksanaan Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) tahun ini? Mekanisme apa yang diberlakukan pengelolanya? kondisi psikis mana yang dimiliki para pengelola maupun pesertanya? Relasi sosial apa yang terjadi? Dan prilaku pasar mana yang dipilih?

Perlu analisa dan waktu lebih lanjut mengurai lima pertanyaan singkat itu. Sedikit rumit memang, tapi itu semua akan terjawab seiring waktu pelaksanaan OPAK, hingga LPJ dan pembagian sertifikat nanti. Dan yang lebih menarik adalah sebuah pertanyaan kecil; besarkah manfaat Opak untuk para pesertanya? Sampai-sampai pada saat pendaftaran lalu, ada beberapa calon peserta yang seolah menyesal betul, tidak diperkenankan mengikuti Opak, karena para pengelola menerapkan quota 800 peserta saja. Tidak lebih..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…