Langsung ke konten utama

Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif

Oleh : Abdel Malik Mughni*

Pemilu 2009 mendatang, memang memberi ruang yang cukup luas bagi kaum muda dan mahasiswa. Semangat kaum muda yang menggebu, kini banyak dipertontonkan oleh banyak tokoh, yang tiba-tiba bermunculan di media, dengan jargon yang hampir seragam; “perlunya kaum muda memimpin!”

‘Kegenitan’ berpolitik yang mereka tampilkan dalam iklan yang menghabiskan dana tak sedikit itu, bagi saya, adalah euphoria demokrasi yang terlambat. Seperti telatnya pubertas, yang dialami remaja tua. Semangat yang mereka tunjukkan, tak sejalan dengan sikap masyarakat umum, yang kini terlihat jenuh dengan hingarnya dunia politik (lihat saja besarnya persentase golongan putih, dalam setiap pemilihan kepala daerah).

Munculnya beberapa partai baru yang menargetkan kaum muda sebagai konstituen, juga membuat kelompok intelektual muda –baca: Mahasiswa- tergoda untuk terjun dalam pesta demokrasi, tak cuma sebagai tim sukses, apalagi hanya tim penggembira, kini mahasiswa punya kesempatan menjadi calon legislatif di usia muda.

Seorang teman perempuan saya yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif daerah misalnya, teman sekelas saya itu, kini menjadi pengurus salah satu partai baru, bentukan seorang Jendral. Teman saya yang lain, juga perempuan, kini menjadi fungsionaris sebuah partai yang selalu didera konflik internal, Adik kelas saya ini juga punya niat yang sama, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang. Satu lagi teman saya –satu angkatan- yang hendak maju dalam pemilu mendatang, dia dicalonkan oleh salahsatu partai berbasis organisasi mahasiswa kegamaan.

Keberanian tiga teman sekampus saya itu, tentu dialami dan dilakukan oleh sebagian mahasiswa di kampus lain. Salahkah? Tidak juga. Semua berhak dipilih dan berhak memilih. Meski kemampuan, kematangan dan komitmen mereka pada masyarakat pemilihnya belum teruji, tapi kesempatan terlibat langsung dalam pemilu legislative, memberi peluang bagi mahasiswa untuk memberikan pencerahan langsung ke tengah masyarakat. Politic education yang efektif, dapat dilakukan sambil mengampanyekan diri.

Dan jika terpilih, kemudian mampu bertahan dan memperjuangkan idealisme kemahasiswaanya, mereka tentu akan eksis sebagai kelompok muda progressif di gedung dewan nanti. Namun jika setelah terpilih, dan -seperti yang biasa terjadi- mereka terjebak dalam system yang korup, kekhawatiran akan hadirnya kaum birokrat muda yang prematur dan karbitan, juga terulangnya tragedi angkatan ‘66’ yang dikenal opportunis, bisa jadi terulang kembali. Mahasiswa yang seharusnya bersikap sebagai agent of control, yang bersikap kritis terhadap sebuah rezim, kini berebut tampil menjadi legislator.

Bagi saya, sikap terbaik bagi mahasiswa saat ini, adalah mengkaji lagi format good government yang tepat bagi bangsa ini. Besaran golput yang tidak sedikit, otonomi daerah, yang menyisakan sengketa dan perebutan wewenang antara pusat dan daerah, bermunculannya sparatisme lokal dan upaya deidiologisasi pancasila, dan membesarnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi, adalah tugas berat yang mesti dituntaskan, dicarikan solusi, baik dalam tataran wacana, maupun tataran praktis.

Mahasiswa juga dapat memilih untuk menjadi oposan sejati dengan konsisten mengkritik sekaligus menawarkan solusi bagi pemerintah, kemudian konsentrasi dalam memberdayakan masyarakat sekitarnya, melalui berbagai program yang progressif. Dan sesekali, memprovokasi masyarakat untuk bergerak menetang kebijakan yang korup, juga boleh..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…