Langsung ke konten utama

Ziarah Pesantren


Kemarin lalu (24/06), aku bareng beberapa teman di SiGMA berziarah ke makam Abuya Dimyati, salah seorang Ulama legendaris Banten, beliau dikenal mengamalkan nilai sufisme dalam hidupnya. Banyak tokoh, pejabat, santri, kiai dan masyarakat umum yang berguru kepadanya. Hingga beliau wafat pada tahun 2003 lalu, kami yang berangkat saat itu, tak satupun yang sempat bertatapmuka dengan ulama ternama itu.
Rabu malam itu kami beranjak dari rumah Diki yang letaknya tak terlalu jauh dengan kompleks pesantren Cidahu (tempat tinggal dan peristirahatan terakhir Abuya Dimyati). Cidahu yang merupakan daerah pegunungan, membuat kami betah menikmati hamparan sawah yang berundak. 'Drainase' dan sistem pengairan yang tradisional, ditambah deretan gubug pesantren yang berjajar di sepanjang jalan beraspal (hotmix,bro!) semakin menyejukkan pandangan. Tidak ada gerbang atau lawang sketeng yang bertuliskan "selamat datang di komplek pesantren Cidahu", banner, plang dan papan nama pesantren pun tidak terlihat. Yang tampak hanya kibaran empat pasang bendera jumbo ukuran sekitar 1x2m, dengan warna biru dongker, terpancang di atap lantai tiga sebuah rumah, yang sedang dibangun. Rumah itu tampak anggun, dengan posisinya yang tertinggi diantara rumah lainnya, tapi tidak tampak mewah dan glamour. "itu rumah Abah Mur (K.H. Murtadlo) putra ke dua Abuya Dimyati" ujar Diki bertingkah selayak 'guide'. Rumah tingkat tiga ini agak kontras dengan majelis di seberangnya. kontras, karena majelis tersebut justru lebih layak di sebut villa.
Suasana nyaman langsung menyergap kala ku masuki area majelis bertingkat dua itu. Keramik putih nan licin, dihampari karpet berpola kubah, menguatkan kesan bahwa rumah ini adalah tempat 'ibadah' bukan villa tempat berlibur!
Interior di dalamnya membuatku terhenyak, sebuah globe dan kitab kuning tertata di atas meja setengah kaki. Lemari kayu berukir rajawali penuh kitab, menyambut kami ketika melewati ruang tengah, yang bagiku lebih mirip ruang keluarga. Lukisan Abuya Dimyati yang sedang bersarung dan menggenggam tasbih, ditambah sebuah Photo pemilik majelis yang sedang menuntun Abuya, seakan ingin memperkuat genealogi pesantren penghuni tempat ini.
Tak ada gorden yang menghalangi pandangan kami ke luar villa ini, hijaunya sawah mengitari rumah ini. Sunyi, senyap dan sepoinya angin membuatku betah untuk berlama-lama di lantai dua bangunan ini. Rangkaian kaligrafi 'ayat kursi' melengkapi ornamen yang ada di sana. Sejenak, anganku melayang, andai ku berkesempatan lebih, andai ku berdana lebih, andai ku tak dibebani tanggung jawab lebih, andai ku dapat menikmati indahnya menjadi santri, di tempat ini...





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…