Langsung ke konten utama

Perempuan dan kebebasan berpendapat

Sore itu, sekretariat kami di lantai dua gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN “SMH” Banten menerima kunjungan dua siswi SMA dari Pandeglang, mereka sedang mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kami yang saat itu baru menyelesaikan proyeksi penerbitan bulletin SiGMA edisi Juni-Juli, yang -rencananya- bertema “Generasi Nyontek” memanfaatkan situasi ini untuk sekaligus mewawancarai keduanya.

Fina dan Dini, demikian nama tokoh kita ini. Fina, berjilbab gaul dan sedikit cuek dan terkesan jutek ketika kami beronondong dengan pertanyan seputar Ujian Nasional, sementara Dini, terlihat lebih kalem dengan kacamata dan jilbab lebarnya. Sejam berlalu, wawancarapun usai. Namun obrolan masih berlanjut dan beralih menjadi kenalan. Dini yang mengaku tak mampu menolak tradisi nyontek yang didukung sistem (guru dan sekolahnya) bertanya tentang fakultas dan jurusan kuliah yang saya ikuti di Kampus IAIN Banten, dengan jujur saya menjawab kuliah di Fakultas Syari’ah, jurusan Jinayah Siyasah (Pidana & Politik Islam).

Tanpa diduga, mereka kemudian bertanya banyak hal, tentang hukum Islam. Seolah ingin membalas dendam atas jebakan wawancara kami, beragam pertanyaan mereka lontarkan, bergantian. Terus terang, saya merasa dites oleh keduanya. Sesaat, pendapat yang saya lontarkan dapat mereka terima. sayangnya, saya lupa sedang berhadapan dengan Fina, yang pernah tinggal di Pesantren dan Dini, yang sedang bersemangat mengikuti kajian di salh-satu harokah Islamiah, ketika berpendapat bahwa Jilbab adalah tradisi, bukan bagian dari Syari’ah.

Berkali mereka menentang dan mencoba mematahkn pendapat saya. Sampai saya harus mengeluarkan refferensi sebuah Tafsir lama (Jalalain) dan sebuah terjemahan Al-Qur’an terbitan Bandung. Sya mencoba mengurai kata jalaba, khumur, dan aurat. Magrib pun menjelang, mereka pamit untuk pulang. Ketika bersalaman, Dini meminta saya untuk meralat pendapat, dan bertaubat. Dengan snyum terkulum (mengingat tingkah mereka, yang kukuh dengan pendapat sendiri), saya menjawab “ ya, Saya akan merubah pandangan saya, jika ada pendapat yang lebih kuat, dan dalil yang lebih sahih”. Fina yang sedari awal terlihat kurang ramah menimpali “nanti fina bawain buku yang bilang berjilbab itu wajib!”. “Saya tunggu” kata Saya singkat, menutup pertemuan kami.

Sebulan berlalu, saya pun hampir lupa dengan kejadian itu. Ujian pengesahan judul skripsi, membuat lelah, dan saya berniat rehat di Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA, belum sampai di pintu ‘dapur’ redaksi SiGMA, saya terkagetkan dengan sapaan seorang gadis berkerudung penuh dan berjubah, tangannya yang menggenggam sebuah buku., membuat saya berasumsi bahwa gadis ini adalah mahasiswi baru atau teman sekelas dari salahseorang Crew SiGMA. Sya menjawab sapaanya sekedarnya, dan masuk ke ruang redaksi.

Tak lama kemudian, Nining, salah satu Crew SiGMA yang konon satu kosan dengannya, meminta saya keluar dan menemui gadis itu, kemudian mengenalkan -lagi-, bahwa gadis itu bernama Fina, “Siswi yang dulu berdebat tentang Jilbab, dengan Kaka” ungkap Nining.

Saya yang baru ngeh kemudian mencoba berramah-tamah dengannya, dan menyatakan permohonan maaf, atas kepanglingan saya yang sempat lupa karena perubahan penampilannya. “Makasih, Ka, udah ngebangkitin keberanian Fina buat lebih Syar’I” kata Fina, membuat saya sedikit limbung dengan segala kejutan yag terjadi.

Setelah berbincang dan mengingat lagi perdebatan kami tempo lalu, Fina menyerahkan lembaran kertas yang ia keluarkan dari ransel. “ini saya tuliskan dalil-dalil tntang wajibnya berjilbab, tapi dibacanya nanti, kalau Fina udah pulang” ungkap Fina, lagi. Ending dialog bulan lalu, terngiang dalam benak saya. Belum saya terima lembaran kertas itu, fina menariknya lagi. Kelucuan khas gadis tanggung, pikir saya. Agak lama kami berbincang, dan mungkin akan lebih lama lagi, jika saja seorang teman tak mengingatkan saya untuk segera mencari data di Warnet. Saya pun pamit.

Sepulang dari Warnet, Tohir, Pemred kami menyerahkan lembaran kertas bergulung, “Nih, titipan dari Fina” kata Tohir, “Apaan seh isinya, Gue kok gak boleh liat?” kata Tohir lagi. Saya membuka lembar pertama, dan menyerahkan lembaran lainnya untuk dibaca Tohir. Saya terhenyak, seorang Siswi menganggap perbincangan singkat tentang jilbab, sebagai hal yang begitu serius, sampai haru mengunmpulkan puluhan dalil dan seperangkat logika untuk menerangkan wajibnya berjilbab, bagi muslimah. Kubaca sekilas lembaran kertas itu dan kuhitung, -jika tak salah hitung, lembaran kertas itu kini hilang- tujuh halaman folio tulisan berspasi satu setengah, dengan font 12, dan tipe huruf Times news roman. Dibuka dengan pernyataan maaf atas tindakan –yang menurutnya, lancang- “saya tidak bermaksud menggurui, sekedar mengungkap kebenaran yang saya dapat dan kemudian saya yakini” paparnya setelah salam dan ungkapan say hello, khas remaja. Lima halaman setelahnya berisi kutipan ayat Qur’an dan hadist tentang aurat perempuan, serta logika “buah yang -steril- ditutup plastik, dibandingkan dengan buah tanpa kemasan, banyak disentuh, dan kadang dikerubung lalat.” Logika semacam ini pernah aku baca dalam salahsatu tulisannya Habiburrahman Eshirazy. Satu halaman terakhir, berisi doa dan harapan agar saya menemukan jalan yang benar, juga sedikit nasihat tentang pernikahan (dia bermaksud melucu, mungkin. Karena setelah nasihat ditutup dengan “he.he.”). Haru dan kagum sempat terbenak, dia meluangkan waktu untuk mencari dalil, meyakininya, kemudian menerapkannya. Siang itu, dia memang berubah, sikapnya tidak lagi lenje, dan agak dewasa. Pandangannya pun menunduk ketika berbincang, tidak menantang, seperti bulan lalu.

Saya melihat ada semangat menggebu dalam tulisan teman baru saya itu. Ternyata seorang perempuan bias begitu menggebu dalam merespon perbedaan pendapat, apalgi menyangkut keyakinan. Ini mengingatkan saya pada kisah pertentangan Aisyah dengan Ali Bin Abi Thalib, yang sempat menuai perang bertajuk perang Unta. Ya, sepeninggal nabi, Aisyah adalah salahsatu rujukan utama ummat Islam, bahkan ia dikabarkan pernah menjadi hakim pada tiga masa kekhalifahan (Abu Bakar, Umar, dan Ustman). Sementara Ali Bin Abu Thalib, sejak muda dikenal sebagai intelektual sejati yang menjunjung tinggi idealisme. Mereka pernah berbeda pendapat, dandalam sebuah pertemuan yang diketahui khalayak, Aisyah berkata, “Wahai anakku, hendaknya kalian tidak saling bermusuhan. Demi Allah, antara aku dan Ali tidak pernah ada permusuhan, hanya pertengkaran antara seorang Ibu dan anak asuhnya, dalam pandanganku, Ali adalah orang yang baik”.

Ali menyambut pernyataan itu dengan berkata, “demi Allah tidak ada apa-apa antara aku dengannya, kecuali hanya itu. Sungguh dia adalah Istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…