Langsung ke konten utama

Kesetaraan Berpendapat Dalam Musyawarah

“Adikku melanggar hukum, Aku yang menjadi saksi, Paman penuntut umum, Ayah yang menghakimi, walau Ibu terus membela, yang salah diputus salah.”

Begitu kira-kira penggalan lagu kasidah yang populer di tahun 90-an, bercerita tentang proses musyawarah di tingkat keluarga, yang menempatkan Ibu sebagai pembela. Syair tersebut menjadi cermin realitas tradisi masyarakat kita kala itu. Ayah menjadi pemimpin keluarga, dan dituntut bertindak logis. Sementara Ibu menjadi pendamping Ayah yang memberi pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, pertimbangan Ibu dianggap selalu mengutamakan perasaan.

Tradisi Islam mengenal musyawarah sebagai sarana berembuk untuk mengurai dan memecahkan persoalan bersama. Konsep musyawarah dalam Al-Qur’an terdapat dalam dua ayat popular; “Dan urusan mereka diputuskan secara musyawarah dintara mereka” (Q.S: As-Syura, 38) dan “Bermusyawarahlah (Ya Muhammad) dalam segala urusan” (Q.S: Ali Imran, 159).

Kedua ayat tersebut, dengan terang mengungkap musyawarah sebagai media komunikasi verbal antar komponen masyarakat dalam segala urusan. Rasulullah SAW sangat menjunjung musyawarah, beliau menghargai pendapat siapapun tanpa membedakan jenis kelamin, agama, dan suku. Pada masa awal kenabian misalnya, beliau mendiskusikan wahyu pertama yang diterimanya kepada Khadijah.

Dijumpainya Khadijah sambil ia berkata: “selimuti aku!” ia segera diselimuti…

“Khadijah, kenapa aku?” katanya. Kemudian diceritakannya apa yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa kekuatirannya akan terperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi seperti juru nujum saja.

…Khadijah, tanpa kuatir atau curiga berupaya menentramkan hati Muhammad, dengan pandangan penuh hormat khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, bergembira dan tabahkanlah hatimu, demi Dia Yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkan kau…” (Muhammad Hussain Haikal, dalam buku: Sejarah hidup Muhammad).

Musyawarah dalam keluarga tercermin dalam konspesi pernikahan dalam Islam, yang dipandang sebagai sesuatu yang luhur dan suci. Selain bertujuan untuk melanggengkan kehidupan manusia (melalui proses reproduksi) pernikahan juga menjadi sarana penyatuan dua orang dewasa yang didasari oleh kemauan bersama, demi mencapai keharmonisan spiritual dan emosional. Dengan menikah, dua keluarga menjadi satu dan dua kaum yang berbeda menjadi saling kenal.

Para ulama fiqih merumuskan khitbah sebagai bagian dari prosesi pranikah. Khitbah dalam tradisi masyarakat kita dikenal dengan istilah pertunangan. Sebelum bertunangan, dua insan berlainan jenis dihadapkan pada proses ta’aruf atau perkenalan. Dalam ta’aruf dan pertunangan inilah, proses musyawarah terjadi. Musyawarah yang menghargai kebebasan berpendapat bagi masing-masing pasangan. Seorang perempuan boleh memilih sendiri calon suaminya, begitupun sebaliknya.

Dan hal yang paling agung dalam etika musyawarah –dalam keluarga islami- tersirat pada larangan berkata “ah”, larangan bertindak kasar dan tidak sopan kepada Ibu dan kemudian Bapak. Nabi pernah bersabda, bahwa kebaikan utama yang pertama adalah menghormati Ibu, kedua juga Ibu, dan ketiga pun Ibu, baru selanjutnya menghormati Ayah. Meski demikian, orang tua tidak diperkenankan memaksakan pendapatnya dalam urusan nikah.

Nabi pernah mendobrak tradisi kawin paksa yang biasa terjadi di tanah Arab kala itu. Ibnu Abbas pernah menceritakan bagaimana nabi bereaksi ketika mendengar pengaduan dari seorang gadis yang dipaksa untuk menikah dengan seorang lelaki yang tidak dikehendaki oleh sang gadis yang bernama Khansa itu. Nabi menghargai keinginan Khansa untuk menikah dengan lelaki pilihannya sendiri. (cerita ini dimuat dalam berbagai kitab hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Daruquthni, dan Ibnu Majah). “Seorang gadis tanpa ditanyai persetujuannya terlebih dahulu, dan tanda persetujuannya adalah diamnya.” Hadist lain mengungkap hal ini secara eksplisit, bahwa “Jangan dinikahkan perempuan janda tanpa diajak bermusyawarah, dan perawan tanpa dimintai izinnya” (Hadist Riwayat Jama’ah ahli Hadist, dari Abu Hurairah. R.A.).

Dalam pergaulan rumah tangga, seorang suami dituntut menghargai istrinya dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an mengajarkan hak suami-istri dengan perimbangan yang setara. Keduanya dituntut untuk saling melayani. Jika istri solehah ditandai dengan baktinya kepada suami, maka lelaki yang baik dalam sabda Nabi adalah “Suami yang paling baik terhadap istrinya” (H.R Tirmidzi).

Dalam konteks yang lebih luas, sejarah Islam banyak bercerita tentang kesetaraan perempuan dan lelaki dalam bermusyawarah. Sepeninggal nabi, Aisyah adalah salahsatu rujukan utama ummat Islam, bahkan ia dikabarkan pernah menjadi hakim pada tiga masa kekhalifahan (Abu Bakar, Umar, dan Ustman). Ali Bin Abu Thalib pernah berbeda pendapat dengan Aisyah, dalam sebuah pertemuan yang dilketahui khalayak, Aisyah berkata, “Wahai anakku, hendaknya kalian tidak saling bermusuhan. Demi Allah, antara aku dan Ali tidak pernah ada permusuhan, hanya pertengkaran antara seorang Ibu dan anak asuhnya, dalam pandanganku, Ali adalah orang yang baik”.

Ali menyambut pernyataan itu dengan berkata, “demi Allah tidak ada apa-apa antara aku dengannya, kecuali hanya itu. Sungguh dia adalah Istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.”

Sirah nabawiyah juga menceritakan, bagaimana nabi mengikuti pendapat Umar bin Khattab untuk berdakwah secara dzahir. Ketika Khandaq terjadi, Nabi juga menerapkan saran Salman Al-Farisi untuk menggali parit di sekitar madinah, kota tempat nabi dan para sahabatnya bertahan. Dalam berpolitik, Piagam madinah menjadi saksi sejarah bagaimana nabi bersikap toleran dan partisipatif dalam membangun masarakat madani bersama umat Yahudi dan Nasrani. Kala itu, sejarah berkata, bahwa tiga ummat berdampingan dengan damai dalam satu kota.

Maka tidaklah mengherankan, jika Abu hurairah beriwayat, bahwa “Tidak ada seorangpun yang lebih rajin bermusyawarah, selain Rasulullah sendiri.”

(Wallahul muwaafiq ila aqwamittharieq).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…