Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2008

Perempuan dan kebebasan berpendapat

Sore itu, sekretariat kami di lantai dua gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN “SMH” Banten menerima kunjungan dua siswi SMA dari Pandeglang, mereka sedangmengikuti bimbingan belajar untuk persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kami yang saat itu baru menyelesaikan proyeksi penerbitan bulletin SiGMA edisiJuni-Juli, yang -rencananya- bertema “Generasi Nyontek” memanfaatkan situasi ini untuk sekaligus mewawancarai keduanya.Fina dan Dini, demikian nama tokoh kita ini. Fina, berjilbab gaul dan sedikit cuek dan terkesan jutek ketika kami beronondong dengan pertanyan seputar Ujian Nasional, sementara Dini, terlihat lebih kalem dengan kacamata dan jilbab lebarnya. Sejam berlalu, wawancarapun usai. Namun obrolan masih berlanjut dan beralih menjadi kenalan. Dini yang mengaku tak mampu menolak tradisi nyontek yang didukung sistem (guru dan sekolahnya) bertanya tentang fakultas dan jurusan kuliah yang saya ikuti di Kampus IAIN Banten, dengan jujur saya menjawab kuliah di Fakultas Syari’ah…

Kesetaraan Berpendapat Dalam Musyawarah

“Adikku melanggar hukum, Aku yang menjadi saksi, Paman penuntut umum, Ayah yang menghakimi, walau Ibu terus membela, yang salah diputus salah.”Begitu kira-kira penggalan lagu kasidah yang populer di tahun 90-an, bercerita tentang proses musyawarah di tingkat keluarga, yang menempatkan Ibu sebagai pembela. Syair tersebut menjadi cermin realitas tradisi masyarakat kita kala itu. Ayah menjadi pemimpin keluarga, dan dituntut bertindak logis. Sementara Ibu menjadi pendamping Ayah yang memberi pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, pertimbangan Ibu dianggap selalu mengutamakan perasaan. Tradisi Islam mengenal musyawarah sebagai sarana berembuk untuk mengurai dan memecahkan persoalan bersama. Konsep musyawarah dalam Al-Qur’an terdapat dalam dua ayat popular; “Dan urusan mereka diputuskan secara musyawarah dintara mereka” (Q.S: As-Syura, 38) dan “Bermusyawarahlah (Ya Muhammad) dalam segala urusan” (Q.S: Ali Imran, 159).Kedua ayat tersebut, dengan terang mengungkap musyawarah sebagai media kom…

Ziarah Pesantren

Kemarin lalu (24/06), aku bareng beberapa teman di SiGMA berziarah ke makam Abuya Dimyati, salah seorang Ulama legendaris Banten, beliau dikenal mengamalkan nilai sufisme dalam hidupnya. Banyak tokoh, pejabat, santri, kiai dan masyarakat umum yang berguru kepadanya. Hingga beliau wafat pada tahun 2003 lalu, kami yang berangkat saat itu, tak satupun yang sempat bertatapmuka dengan ulama ternama itu.
Rabu malam itu kami beranjak dari rumah Diki yang letaknya tak terlalu jauh dengan kompleks pesantren Cidahu (tempat tinggal dan peristirahatan terakhir Abuya Dimyati). Cidahu yang merupakan daerah pegunungan, membuat kami betah menikmati hamparan sawah yang berundak. 'Drainase' dan sistem pengairan yang tradisional, ditambah deretan gubug pesantren yang berjajar di sepanjang jalan beraspal (hotmix,bro!) semakin menyejukkan pandangan. Tidak ada gerbang atau lawang sketeng yang bertuliskan "selamat datang di komplek pesantren Cidahu", banner, plang dan papan nama pesant…