Langsung ke konten utama

Masih adakah nalar & moral akademis saat ini?

Sebuah catatan kecil tentang realitas kampus yang lucu.
(Oleh : Abdul Malik)

Maunya selalu memberantas kemiskinan, tapi ada yang selalu kuras uang rakyat//Ada yang sok aksi buka mulut, protas-protes, tapi mulutnyaselalu beraroma Alkohol//Maunya selalu menegakkan keadilan, tapi masih saja ada sisa hukum rimba//Ada yang coba-coba sadarkan penguasa, tapi sayang yang coba sadarkan, sadar aja gak pernah//Setiap hari mabok mengoceh soal politik// setiap hari korup, mengoceh soal krisis ekonomi//Perutnya kekenyangan bahas soal kelaparan//Selalu monopoli, mengoceh soal pembantaian//Setiap hari mengomel soal kebobrokan//Yang muda mabok, yang tua korup//Jayalah negeri ini// jayalah negeri ini!
(Distorsi,Ahmad Band)
Penggalan lirik karya Ahmad Dhani itu ditulis di awal era reformasi. Cerita yang mencerminkan realitas bangsa Indonesia saat itu. Hedonisme, Politik berpanglima uang dan kekuasaan untuk kerabat segolongan. Realitas yang masih terjadi hingga saat ini (dan tahun ini menjalar di kampus IAIN Banten). Wacana yang kurang, diskusi yang jarang, ancaman dan kekerasan atas sikap kritik, sampai dengan budaya magis yang mistis tak pernah menjadi soal yang dipikirkan untuk segera dituntaskan. Yang sering jadi bahan diskusi Cuma politik, uang, cinta berbau seks, dan kekuasaan kelompok dan primordialis.
Padahal, jika saja para aktifis Mahasiswa membaca Catatan Seorang Demonstran dari Soe Hok Gie, saya yakin lima puluh persen, saya -dan mungkin mereka serta kita semua- bakal merasa betul-betul terpuruk dan inferrior. Gie, seorang WNI keturunan Tionghoa, begitu bangganya menuliskan realita perjuangan para mahasiswa tahun 60 -an dalam melawan kedzaliman para penguasa. Dia menikmati keterasingannya. Dan seolah menjadi The Hero melalui tulisan dan gerakannya. Ia rela terpinggirkan demi idealisme.
tag
Bandingkan dengan keadaan sekarang; demo bayaran, atau demi kepentingan kelompok (baca: si pembayar). Diskusi yang seremonial tanpa substansi, seminar dan penelitian yang berbasis proyek, kajian garing yang dilakukan sekadar penggugur kewajiban, perjuangan yang hanya jadi lipstik kepentingan pribadi. Salahkah? Sebenarnya orientasi pribadi dan golongan bukanlah dosa, yang jadi problem adalah ketika tenaga, fikiran dan dana yang dihabiskan, ternyata hanya menghasilkan wacana kosong yang riaknya hanya menghasilkan lelah dan cibiran.
Padahal, mahasiswa dulu, begitu dipercaya dan diagungkan sebagai super hero. Sebenarnya, tidak hanya Soe Hok Gie yang mengabadikan heroisme mahasiswa, Habiburrahman Eshirazy, dan Andrea Hirata, berhasil memotret perjuangan segelintir kaum muda di tengah arus keterpurukan ekonomi. Tapi karya-karya monumental itu hanya segelintir! Bandingkan dengan potret lain tentang dunia kampus saat ini, tawuran, kekerasan sampai pembunuhan yang terjadi di Kampus, sudah tidak lagi menjadi hal yang lucu. Karena terlalu sering terjadi. Ayam kampus, tidak lagi fenomenal, karena sudah menjadi rahasia umum. Korupsi di kalangan cendekiawan kampus, bukan hal tabu lagi, karena para pejabat dan akademisi kampus telah mulai ngantri di ciduk KPK. Dan tak ada lagi yang heran bahwa berbagai kecurangan terjadi di kampus, dunia akademis yang dulu seperti menara gading, karena begitu menjunjung moral dan etika yang eksklusif .
Kultur di kampus ini (IAIN Banten) lebih menggelikan. Mahasiswa didoktrin untuk bersikap arif, menjunjung nilai-nilai dan moral akademis, serta menyepi dari dunia politik. Sementara sebagian pejabat Rektorat dan Fakultas, tak henti berakrobat mencari celah demi mengejar jabatan, hinga aturan yang dibuat tak segan tuk dilanggarnya sendiri. Bahkan tak jarang, para pejabat yang jadi senior di berbagai organisasi, berupaya menggolkan yuniornya untuk duduk di tampuk kepemimpinan Mahasiswa. Dan gilanya, meski ketika menjabat tak mampu berbuat maslahat, subsidi dan kucuran dana terus mengalir, nalar akademis telah sekarat (bukan?).
Belum lagi upaya mengelabui mahasiswa dengan fatsoen Ta’limul Muta’alim, dibumbui beragam janji manis, seolah membuat para aktifis merasa tak layak –lagi- bersikap kritis terhadap ’orang tua’ dan guru di Kampus ini. Kapitalisme global yang meniscayakan sikap hedonis, berhasil membuat moral akdemis semakin terpuruk. Mark-up dana kegiatan, ’mengutip’ dana proposal, hingga penggelapan dana kegiatan, hampir sulit dipisahkan dari obrolan tentang para eksekutif (dan legislatif) mahasiswa IAIN Banten.
Sikap anti kritik, berebut kuasa, kesewenang-wenangan, korupsi dan kolusi, premanisme, hingga percintaan gaya ABG, telah ngetrend, dan layak jadi menu pesta Keluarga Besar Mahasisa IAIN Banten di seratus tahun kebangkitan Nasional ini.
Maka tak perlu protes jika novel dan film tentang dunia kampus saat ini lebih memotret dunia kelamnya (Baca saja Sex in the Kostnya Iip Wijayanto, Jakarta Under Cover-nya Moammar Emka, ’Mereka bilang aku Monyet’ Djenar Mahesa Ayu dan puisi-puisi ’terbuka’ gaya Binhard Nurrahmat yang begitu vulgar –konon menjijikan, tapi nyatanya tetap laris-. Lihat juga Film XL, DO hingga ML –yang meski gagal tayang, tetap dicari bocorannya-). Dan karena kelamnya itu lah, para siswa berlomba masuk Perguruan Tinggi.
Jangan heran pula, ketika para musisi kini banyak bernyanyi tentang ambivalensi yang terjadi, Iwan Fals bahkan berani melarang bicara moral, idealisme dan perdebatan tentang keadilan dan kemakmuran, karena Om Iwan melihat empat hal fundamental itu telah habis bersama hilangnya suara nurani hampir setiap insan di Indonesia, tak terkecuali kaum akademisinya.
Kondisi yang menghiasi Kampus ’Jingga’ saat ini, bisa jadi menambah tumpukan pesimisme bagi semua kalangan di Serang, apalagi ada issue adanya riset tentang ’Ayam kampus di Serang’ yang sedang dilakukan oleh lembaga independen. Bandingkan pula, sementara Mahasiswa di Kampus lain bergeliat menentang kenaikan BBM, dan mengenang lagi kegagalan reformasi di tahun yang kesepuluh, KBM IAIN ”SMH” Banten malah kisruh mengurusi Pemilu mahasiswa (PUM), ini tentu menguatkan anggapan bahwa harapan, perubahan dan perbaikan hanyalah sebuah mimpi.
Meski demikian, kaum progressif mestinya tidak bersikap pesimistis atas kenyataan yang ada. Relatifitas kebenaran tak lantas menghilangkan hubungan sebab akibat (kausalitas). Konsep yang nyata ini semestinya menjadi pegangan kaum terpelajar dalam mengawali, memulai, melakukan dan melanjutkan setiap aktiftasnya. Konsep ini jugalah yang seharusnya menjadi ruh sebuah gerakan, agar selalu dinamis tanpa mudah patah, tetapi juga tidak ekstrim , penuh emosi yang anarkhi.
Saya yakin, tradisi kajian akan menghasilkan sepercik pemikiran untuk melakukan perubahan. optimisme itu akan muncul dan menggerakkan pelakunya untuk segera bangkit dari keterpurukan, ya, di seratus tahun Kebangkitan Nasional, saya teringat sebuah kejadian yang sempat saya tulis di catatan harian pribadi :
“Malam itu, dua kerupuk kaleng tamani obrolanku dengan Aloy, si penjaga warung saderek (yang ada tepat di seberang gerbang barat Kampus IAIN Banten), tempat mangkal para aktifis. Dia bertanya tentang arti ‘Dialektis’ kuterangkan sedikit hal yang ku tahu, dan merembet pada kata kritis, yang kemudian harus kujabarkan lagi. Meski hanya lulus SMP, pergaulan Aloy dengan para mahasiswa membuatnya harus beradaptasi. Maka kukisahkan tentang Joni Ariadinata, tukang becak yang berhasil menjadi penulis handal. Aloy tertarik dengan ceritaku, tangannya terlihat mencorat-coret buku hutang pelanggan, kudekati dia sambil meminta empat batang rokok, ternyata Aloy mencoba tuliskan Syair puitis. “Harus ada perubahan!” bisiknya. Aku tersenyum, puas.
Meski setelahnya, hati kecilku berkata “kalimat yang terucap dariku ini belum sepenuhnya kupraktekkan!”.
Dapatkah kita bersikap Optimis seperti Aloy? tag



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…