Langsung ke konten utama

sutra di kampung penuh luka



Hampir empat tahun aku tinggal di daerah yang penuh warna, dengan masyarakatnya yang penuh kebanggaan atas leluhur dan martabat daerahnya. Dengan kultur yang agak keras, fanatis, primordialis dan menghargai keagungan individu. Kalau anda berkunjung ke sini, akan mudah menemukan seorang yang selalu berkata dalam persfektif aku, keluargaku, dan masyarakatku.
Untuk menjadi selebritis lokal di daerah ini, cukup bermodalkan keberanian menujukkan realitas masyarakat dalam subjektifitas objektif. Ribed?
Tidak juga, anda cukup mengoarkan asumsi-asumsi pribadi atas realitas objektif di daerah tersbut. Apa pasal?
Bersikap realistis di daerah ini bak menjadi pangeran di belantara. Untuk hidup di sini, anda tak perlu repot. Dekati penguasa, atau mereka yang punya uang, lantas jilatlah ia dari pantat hingga ujung kaki. Menjilat pantat adalah bentuk kesantunan di sini. Jangan banyak berkomentar tentang borok yang biasanya diderita para pembesar dan petinggi negeri ini. Sebab bau amis dari tubuh mereka sudah tak asing bagi sesama mereka. ”sebusuk apapun luka yang kau lihat, hiraukanlah, jangan kau berniat untuk mengobatinya!”
”menutup borok adalah etika tertinggi di kampung ni!” begitu biasanya para tetua memperingatkan mereka yang terperangah atau termualkan oleh bau amis yang ada.
Untuk membayar bau amis yang kau hirup, mereka kadang memberi lintingan tembakau atau sebutir permen loli.
”Jangan kau tolak peberian ini meski murah, setidaknya dapat mengobati mualmu”
aku pernah ditawari, beruntung aku membawa rokok di ransel, karena konon, menurut kawan-kawan yang pernah menyicip tembakau lintingan mereka, ”sekali hisap saja berkunanglah mata mu!” sedangkan lintingan tembakau itu tak cepat habis dalam sepuluh hisapan, maka dapat dibayangkan kau tak hanya akan berkunang-kunang kawan. kau akan berkunang berkunang dan berkunang sebanyak sepuluh kali.
Permen lolinya pun punya aroma yang khas, dengan menghisapnya, kau akan ketagihan untuk menjulurkan lidah, menjilati bibir tebalmu sendiri. Hei... jangan salah kawan, permen loli ini konon berefek pada penebalan bibir, tak percaya?> kau pandanglah bibir penduduk sini, sebagian tebal sebagian lainnya menghitam dengan gigi kekuningan, tentu akibat tembakau yang membuat berkunang itu.
para tetua, pembesar dan petinggi kampung ini berkantor di sebuah tenda besar berwarna jingga, dengan sekat lembaran-lembaran kain berbau amis diantara masing-masing ruangnya. Aku pernah bertanya mengapa sekat ruangan kantor ini berbau amis, tapi lagi-lagi juluran lidah dan pelototan mata yang kudapat, seorang kawan yang tak tega melihat ketakutanku berkata, ”pssst... jangan hiraukan bau amis yang ada!”
”tapi ini mengganggu, kawan” bantahku, setengah berbisik.
” kain-kain ini telah berjasa menutupi luka para tetua!”
”so’?!” tanyaku menggantung, betapa bingung aku! Mereka menyebut borok yang membusuk sebagai luka kecil yang perlu ditutupi?
”ya kain-kain itu bekas pembalut luka para pembesar kampung, artistik kan? ” tanya kawanku,
Seriuskah atau bercanda kau?” aku belum terlalu percaya padanya.
”aku serius, kami adalah masyarakat yang menghargai sejarah!”
Aku terhenyak. Penat dan mual melebur dalam senyum kecutku. Ya, getir,ketakutan, rasa jijik dan kelucuan membaur dalam benak.
**
Terik surya memperpengap suasana dalam tenda yang ”artistik” ini. Kali ini kata artistik itu bukan sebuah eupimisme belaka. Dari luar, tenda ini memang betul-betul artistik. Dengan warna jingga berhiaskan totolan merah, sebagian menyerupai batik, sebagian lain mirip kaligrafi, di bagian dalam, totolan merah itu bercorak abstrak..
Aku dipertemukan dengan tetua kampung, ”Kau yang berdagang sutra di tetajug1 kemarin?”
” yupz, father!” jawabku penuh percaya diri, aku tahu sutra yang kubawa banyak diminati kaum muda di kampung ini, bukan tak mungkin pak tua ini juga tertarik.
” kau tahu,, kampung ini bukanlah menara gading?!” tanyanya seperti berseru, dengan pelototan khas gaya kampung ini.
” panggil dia bebaya!” bisik kawanku ditengahi cubitan halus.
”maaf bebaya, bukankah kain sutra layak dipakai, saya hanya menawarkan”
” Di kampung lain mungkin iya tapi kampung ini terbiasa dengan kesederhanaan, dan lagi kita dikelilingi kaum kumuh, kau lihat banyak pemulung di sekitar kampung?”
Aku ingin melanjutkan peerdebatan, tapi bau amis dari mulutnya membuatku menyingkir dengan nyinyir.
”baik, bebaya akan kusimpan kain sutra untuk sendiri saja”
” ya dan jangan kau kenakan, sutra itu haram untuk para lelaki!”
Ku lilirik lipatan sarungnya, cerah dan tampak halus.
Tetua itu bergegas meninggalkanku, sibuk benar ruapanya ia.
Sepeninggalnya, anyir tak menghilang dari hidungku, menahan mual, ku ludahi lantai bekasnya berdiri, ada ceceran darah di sana.
Keluar dari tenda termegah di kampung itu, ku temui pimpinan pemuda kampung.
Kanoman, demikian nama jabatan pemipin kaum muda di sana.
Ia tidak bersarung, tapi celananya menggantung di atas mata kaki.
Aku di bawa ke tenda berukuran sedang, putih kainnya seakan berpadu dengan warna kuning kecoklatan yang membias. ”warna putih tenda itu hampir pudar oleh nikotin dan tetesan permen loli yang mencair karna panas, kau lihatlah di bawah tikar, dibalik kain dan di belakang tenda ini!” temanku kembali menerangkan.
Aku terdiam belum menvgerti. Sampai saat sang kanoman mempersilakanku memasuki tenda, kulihat lelinting tembakau dan puluhan loli di bawah tikar, ”silakan dicicipi!” sang kanoman sodorkan loli dan lintingan tembakau yang diambilnya dari dinding tenda bagian dalam. Ya tenda kain ini ternyata menyimpan loli dan tembakau!. ”tuan muda, kami senang dengan kehadiranmu, tetapi kelancanganmu menjual sutra, membuat sebagian kami muak”, sang kanoman membuka forum tanpa basa-basi.
Aku terhenyak mendengar sapaan tak ramah darinya. ”apa salah nanda, ketika ingin turut meringankan beban sesama di kampung ini? Bukankah sutra dapat mengobati luka, atau setidaknya menutupi bau menyengat dari tubuh penuh borok itu?” paparku menunduk lesu.
” ah.. tau apa kau tuan muda?” uajr sang kanoman. ” kampung lami harum mewangi! Usah kau lihat borok yang ada, tapi lihat betapa indah kami menikmatinya. lebih baik, kau nikmati cerutu ini tuk hilangkan rasa mual yang mungkin kau rasa”. Teriaknya sambil sodorkan sebatang cerutu berisi tembakau khas kampung jingga.
Ternyata, kampung ini memilih racun sebagai obat, kalian mual menghirup bau luka, tapi enggan mengakui borok yang ada.. malang nian saudaraku!

Komentar

nani nuraeni mengatakan…
menarik...thanks for sharing
Anonim mengatakan…
Who knows where to download XRumer 5.0 Palladium?
Help, please. All recommend this program to effectively advertise on the Internet, this is the best program!

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…