Langsung ke konten utama

Ramadhan yang Humanis bagi Rakyat Miskin

Oleh Abdul Malik


Sebuah acara humor di salah satu stasiun TV swasta mengangkat tema “penertiban maksiat menjelang ramadhan”. Dalam acara menjelang sahur tersebut diceritakan, keresahan seorang penyanyi dangdut akan larangan berjoget di bulan puasa. Acara ini mencerminkan realitas masyarakat kita yang plural, karenanya bukanlah hal yang aneh kalau sebagian golongan merasa resah menjelang ramadhan.
Banyak umat Islam berharap sepinya ramadhan dari bentuk maksiat. Sementara itu, para pelaku maksiat seolah memandang ramadhan sebagai bulan yang seram, pekerja dan penikmat seks komersil serta pengelola tempat hiburan mesti rela menahan diri di bulan yang suci ini. Seseram itukah ramadhan?
Jika kita membuka kembali firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an, maka kita akan menemukan hal yang sebaliknya. Ternyata ramadhan menyiratkan humanisme mendalam yang semestinya menginspirasi prilaku keberagamaan umat Islam.
Ayat 183-187 dalam surat Al-Baqarah dikenal sebagai dalil wajibnya berpuasa ramadhan. Padahal, lima ayat tersebut tak sekadar berisi tentang puasa. Di dalamnya terkandung nilai luhur yang humanis. Dalam ayat 183, Allah Swt. menyapa manusia beriman - hanya mereka yang beriman - tentang ditetapkannya puasa ramadhan. Ritual puasa konon telah sejak lama ada, namun prosesinya berbeda-beda. Misalnya, Nabi Musa as berpuasa “dengan berdiam diri” selama 40 hari. Begitu pun, Nabi Daud as yang berpuasa dua hari sekali. Dalam adat kejawen terdapat ritus pertapaan atau tirakatan (bagi Islam abangan), puasa patigeni atau mutih biasanya menjadi syarat ritus tersebut. Maka benarlah apa yang dinyatakan Allah Swt. bahwa ketetapan puasa telah berlaku sejak umat terdahulu, umat Islam hanya meneruskan serta meluruskan tradisi tersebut.
Puasa dalam Islam, seperti dicontohkan Nabi Muhammad Saw, sangat memerhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Umat Islam tidak dianjurkan berpuasa sehari semalam. Ramadhan juga tidak mensyaratkan sikap diam dalam berpuasa. Maka meski meneruskan tradisi lama, puasa versi Islam lebih manusiawi.
Demi menahan lapar dahaga di siang hari, kita dianjurkan bersahur. Selain menjaga stamina, sahur pun mengajarkan kita untuk mengatur pola makan serta memerhatikan kebutuhan mekanisme tubuh. Allah Swt. begitu mengerti akan kelemahan manusia, karenanya setelah berbuka, di malam hari kita diperkenankan makan, minum dan bersetubuh (Q.S. Al-Baqarah: 187).
Ciri khas ramadhan selain puasa adalah shalat tarawih. Di perkampungan, dalam sela-sela tarawih biasanya dibacakan shalawat Nabi. Shalat ini terasa asik, ketika dilakukan berjama’ah. Maka, tak heran jika di awal ramadhan, masjid dan mushala akan sesak oleh para jama’ah. Semangat ini sebenarnya dapat memupuk silaturrahim dan mempererat cinta kasih sesama manusia. Selesai shalat tarawih, biasanya tradisi tadarrus dilaksanakan, seorang membaca Al-Qur’an, jama’ah lainnya menyimak dan menegur kesalahan membaca untuk segera diralat agar sesuai tajwid. Pentingnya tegur sapa dan tradisi kritik transformatif tersirat di sana.
Yang terpenting, hakikat puasa adalah menahan nafsu syahwat, esensi tersebut mesti terserap dalam diri dan prilaku kita. Salah satu hadits menjanjikan adanya ampunan Allah Swt. bagi mereka yang berpuasa ramadhan dengan dasar keimanan disertai praktik esensial tersebut. Allah Swt. juga menunjukkan kebijaksanaanya, dengan memberi dispensasi kepada mereka yang tak mampu berpuasa, musafir, dan orang sakit untuk diperkenankan membatalkan puasanya. Bagi perempuan yang sedang haid, nifas dan melahirkan bahkan dilarang berpuasa. Karena, Allah Swt. tahu mereka membutuhkan suplai makanan yang lebih guna menjaga stamina.
Ketika Allah Swt. menyapa kita dengan penuh kelembutan, lantas mengapa harus ada nada keras dan sikap anarkis terhadap mereka yang tak sepaham? Padahal sungguh jelas bahwa Allah Swt. hanya menyuruh mereka yang beriman. Sehingga, mereka yang tidak mampu melakukan pengagungan ramadhan tak mesti disikapi dengan kekerasan. Syukurnya, para penganut Islam radikal kini tak lagi melakukan aksi anarkis seperti tahun-tahun lalu. Kesigapan aparat pamong praja dalam penertiban maksiat serta kesadaran akan pentingnya menampilkan sikap Islam nan damai mungkin melatar belakangi hal ini.

Ramadhan bagi Rakyat Miskin
Selain menahan lapar dahaga dan nafsu syahwat, puasa juga mengajarkan kita untuk menghargai dan menyantuni sesama. Perihnya lapar dan lelahnya dahaga dapat membuat seseorang sadar akan penderitaan orang lain. Budaya ini pula tampaknya yang membuat masyarakat Indonesia memaklumi banyaknya pengemis, pengamen, anak jalanan serta peminta sumbangan atas nama pembangunan rumah ibadah dan lembaga pendidikan.
Padahal, Islam mempunyai aturan tentang zakat infak dan shadaqah. Di akhir ramadhan, pemuka agama biasanya ramai ditemui masyarakat yang hendak menunaikan zakat. Kalau saja sirkulasi zakat ini berjalan lancar dan sebagaimana mestinya, umat Islam Indonesia dapat merasakan kemakmuran hidup. Apalagi jika, zakat harta, tanaman dan dagang yang jumlah nominalnya tidak sedikit, telah berjalan teratur.
Sayangnya, keberadaan Badan Amil Zakat Infak dan Shadaqoh (Bazis) belum terasa benar manfaatnya. Mestinya, dana Bazis diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan (kaum faqir). Jika ingin lebih efektif, zakat yang ada dapat diberikan dalam bentuk bantuan modal, bukan pinjaman, kepada pengusaha kecil yang perlu tambahan modal.
Dapat dibayangkan, jika dalam satu kampung terdapat 3 orang kaya yang rela menunaikan zakat harta dan usahanya dengan menanam atau modal – sesuai ketentuan zakat, 2,5% dari nishobnya - pada tetangga yang butuh suntikan modal usaha, kemudian usaha sang tetangga kemudian tumbuh dan menunaikan zakatnya kepada yang lain, maka dalam satu tahun kampung tersebut dapat mengangkat kesejahteraan 3 anggota masyarakatnya, hitungan ini kemudian berlipat jika setiap suntikan modal yang diberikan berdampak positif.
Sayangnya, zakat mal lebih sering diprioritaskan pada pembangunan fisik, seperti pembangunan masjid, mushalla dan majlis ta’lim. Sikap ini memang lebih baik daripada tidak menunaikan zakat sama sekali. Namun, dampak dari budaya rehabilitasi dan pembangunan fisik, membuat kita lupa akan pentingnya membangun semangat ekonomi masyarakat muslim yang hingga saat ini masih berkubang di bawah standar kesejahteraan.
Para pengelola Bazis pun seolah tidak peka terhadap peliknya permasalahan ini, konon pengusaha kecil yang mengajukan bantuan modal pada Bazis, tidak diberikan cuma-cuma, tapi berbentuk pinjaman. Padahal, seharusnya dana zakat bukan untuk dipinjamkan, tapi dialokasikan bagi mereka yang berhak. Dalam hal ini, pelaku usaha kecil dapat dikategorikan kaum dhu’afa atau masakin yang berhak memperbaiki taraf hidupnya dengan bantuan zakat.
Kita pun tentu tahu bahwa Bazis bukanlah lembaga peminjaman, pegadaian apalagi Bank, yang memberikan sesuatu dengan mengharap imbalan jasa. Amil memang berhak mendapat santunan zakat, tetapi tidak lantas semua harta zakat yang ada di Bazis kemudian dikomersilkan, demi kesejahteraan pengelolanya. Dengan pengelolaan yang baik, maka zakat akan terasa benar manfaatnya, tidak hanya bagi pengelola zakat, tapi bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.
Indahnya Ramadhan akan tampak jika semua elemen muslimin sadar akan hal ini. Aparat pemerintah dapat menunjukkan kewibawaannya dengan bersikap tegas dalam penegakan hukum. Para ulama membimbing kaumnya kepada sikap bijak dalam beragama. Kaum dhuafa terangkat kesejahteraanya. Dan, mereka yang dermawan pun semakin semangat berderma, jika melihat manfaat dermanya bagi kesejahteraan bersama.
Penulis adalah pengaji sosial-keagamaan di Umbruch Cercle IAIN “SMH’

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…