Langsung ke konten utama

Obsesi dan pandangan*


Saya kini mampu menembus ruang di luar diri, menatap waktu yang mengalir tanpa henti, perempuan tanpa busana, lelaki bertopi buaya, mobil berlumur darah, hilir mudik mengacak benak.

Semenit lalu, saya melihat tas gendong penuh peluh, dijinjing penjaja koran berwajah cahaya, Mungkin keningnya penuh susuk, batin saya menelisik, “tidak, ia pelaku wudu yang konsisten, setiap lima kali sehari ia membasuh mukanya, ditambah pembersih muka, mungkin” saya mencoba rasional dan religius.

Di depan sana, seorang perempuan setengah telanjang tengah berdiri, kini ia terlihat tanpa busana, ah, apa gerangan yang merusak pandangan ini, semua perempuan tiba-tiba terlihat telanjang!

Andai parmenides masih ada, mungkin ia akan menertawakan rivalnya, heraclius, yang begitu percaya pada pandangan mata. Betapa tidak? Saat ini banyak pandangan yang tertipu, bahkan sekelas ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Pentolan Pers nasional, hingga pakar hukum pun, terlena oleh kepingan koin yang dipandang berharga.

Jika para tokoh nasional mudah tertipu pandangan, apakah rasionalitas bangsa ini kemudian diragukan? Mungkin benar apa yang dikatakan Permadi, S.H, saat berbincang tentang Indonesia, bangsa Klenik? Di sebuah stasiun televisi swasta nasional, bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sudah harus kembali ke tradisi klenik, karena ternyata, para presiden Indonesia sejak awal merdeka hingga kini, masih percaya terhadap pandangan mistik.

Naif memang, jika kita mengingkari pandangan ketimuran yang mendasari tradisi bangsa ini, lebih naif lagi kalau kita menentang globalisasi dengan menolak segala yang berbau barat.

Padahal, kalau mau dipertanyakan, sebenarnya paradoksial barat dan timur, berawal dari pandangan siapa ? kaum fundamentalis muslim, yang leterlek dalam menafsirkan kitab suci, akan dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut, barat dan timur telah ditetapkan oleh Tuhan! Masyriq wal Maghrib, kata al-Qur’an, tapi apakah pandangan kita tentang posisi timur dan barat sudah benar sekali ?

Tulisan ini tidak bermaksud menggugat persepsi indra, karena sebagai manusia, kita berhak mengambil manfaat dari keberadaan diri dan alam, sebagai wujud syukur -bagi yang percaya akan anugerah sang pencipta-, juga sebagai bukti eksistensi diri –bagi yang keukeuh dengan kemandirian alam-.

Sayangnya, pandangan yang membumbung kadang dianggap mengganggu stabilitas, karena norma yang berlaku, memang sering memaksa penganutnya untuk membatasi pandangan. Simak saja penuturan sejarah tentang para tokoh yang terasing atau diasingkan, karena pandanganyamelampaui yang lain.


Padahal, Tuhan telah menganugrahkan mata untuk menatap indahnya dunia, Tuhan juga telah memilih mata hati sebagai cermin pembenar.

Masalahnya, kadang sekelompok orang begitu percaya dengan kebenaran pandanganya, yang sering diklaim mewakili pandangan Tuhan.


*ulisan ini pernah dimuat di bulletin fresh!!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…