Langsung ke konten utama

mengenang CakNur mengaji GusDur

Doktrin Cak Nur

Membaca pemikiran Nurcholis Madjid, (Cak Nur), kita akan disuguhi dengan beragam teori prilaku keagamaan kontemporer, pendiri universitas Paramadina ini mengandaikan integrasi prilaku seorang muslim, menjadi warganegara yang ‘menguasai’ alam –dalam hal ini Negara-. Teori khalifah Allah fil Alrd yang selama ini didengungkan para pengagum dan pengikutnya, kemudian mengarah pada penguasaan negara opleh kader Islam.
Hal ini dapat dipahami dari kondisi sosiokultural bangsa Indonesia saat itu (tahun70-80 an), yang terhegemoni oleh tirani orde baru yang cenderung meminggirkan kekuatan oposisi, dan opsisi atas orde saat itu adalah Islam. Karenanya, kemudian muncul jargon Islam yes, partai Islam No! terlepas dari prasangka tentang wacana titipan, upaya Cak Nur menerjemahkan Pancasila sebagai ideology Islami “isi masing-masing sila itu mempunyai nilai keislaman” karenanya, wawasan keislaman menyatu dengan wawasan pancasila (Nurcholis Madjid, Islam, doktrin dan peradaban), terbukti manjur mengekalkan Pancasila sebagai ideology bangsa.
Tahun 1990, ketika Islam mulai didekati peguasa, Cak Nur kemudian menebar wacana toleransi, Pluralisme, egalitarianisme dan toleransi, yang menurut Ahmad Baso, dalam buku NU Studies, masih memimpikan kejayaan Islam lampau, dengan mengenang imperium Islam klasik di Spanyol. Baso menilai Cak Nur sebagai cendekiawan yang mengandaikan kembalinya kekuasaan Islam, dengan bersikap negasi afirmatif kepada agama lain yang sebangsa.
Merujuk pada asumsi tersebut, maka patut dimaklumi, jika kemudian kader-kader Cak Nur di Himpunan Mahasiswa Islam, berupaya betul dengan segala potensi dan kesempatan yang ada, untuk duduk di bangku kekuasaan, karena dalam Nilai Dasar Perjuangan yang digagas Cak Nur, tersimpan ide untuk menjadi penguasa (khalifah Fil Ard).

Mengenang Cak Nur, maka akan bersentuhan dengan ide Pribumisasi Islam nya Gus Dur Cak Nur mengupayakan Islamisasi melalui jalur kekuasaan, sedangkan Gusdur mengandaikan Islam tumbuh subur sebagai kultur masyarakat Indonesia, tanpa paksaan tangan penguasa.

Gusdur dan pencarian kekuasaan

Jika Cak Nur menginginkan integrasi muslim menjadi penguasa, maka Gusdur mengusung integrasi muslim sebagai warga negara yang bajik, dengan bersikap toleran ewuh pakewuh dan saling menghargai. Seorang muslim harus senantiasa memperhatikan dan memperjuangkan keadilan, persamaan derajat dan melindungi kaum tertindas. Bagi Gusdur, Islam sebagai agama pembebasan, harus menginspirasi ummatnya agar mauy berbuat untuk sesama tanpa melihat latar belakang. Semangatnya dalam memperjuangkan Islam, tidak lantas membuatnya sepakat dengan Islamisasi.
Dalam beragam tulisannya, Gusdur cenderung mengangkat dan membela lokalitas keagamaan. Maka ia menolak upaya arabisasi, baginya kata selamat pagi tak mesti di islamkan dengan ‘assalamualikum’, sapaan terhadap rekan, saudara atau sahabat tak harus berbau arab dengan sapan Ikhwan, Baginya, ketaatan beragama tak sepadan dengan pengagungan simbol Arabian. Karenanya, dia lebih suka mengusung Islam ala Indonesia bukan Indonesia ala Islam, kata lain, Islam harus membumi, bukan berarti simbolisasi islam harus terjadi, tetapi bagaimana tradisi lokal diakui sebagai salahsatu kekayaan budaya dalam Islam.
Gaya berpikir Gusdur, mungkin terpengaruh oleh kultur kekuasaan pesantren, yang membaur dengan teori pergerakan Ikhwanul Muslimin, di messir dan kaum sunni di Irak (partai Bath, yang dimotori oleh saddam Hussein), sebagai pembesar di kalangan pesantren, Gusdur dituntut bersikap bijak dalam mengangani keragaman masalah di internal organisasi yang dipimpinnya (Nahdlatul Ulama), sebagai pemikir, yang pernah bersentuhan dengan beragam ide pembaharuan Islam, dari Hassan El-Banna yang fundamentalis, hingga Arkoun yang liberal, akhir-akhir ini, Gusdur kemudian cenderung mengarah pada yang ‘liberal’.
Sayangnya, Gusdur berpikir dengan gaya meloncat-loncat, tidak seperti Cak Nur yang sistematis, sehingga pengagum dan pengikut Gusdur, kemudian kerepotan dalam menerjemahkan pemikirannnya, tapi dibalik kerepotan tersebut, pengikut Gusdur kemudian muncul dengan gaya berpikir yang berbeda dari gurunya, merkea kemudian menjadi pemikir Mandiri, kadang juga berlawanan teori Gusdurian dengan beragam kritiknya, sebut saja Masdar. F. Mas’udi, dengan agama keadilannnya, Said Aqil Siradj, yang melegalkan Mut’ah, padahal Gusdur sendiri, cenderung anti poligami demi kesetaraan gender. Dalam bidang politik, Gusdur juga sering menuai perlawanan dari muridnya, semisal Alwi Sihab, chairul Anam dan Hasyim Muzadi.
Selain gaya berpikir yang meloncat sehingga tampak kurang sistematis, Gusdur juga kemudian terjebak dalam euphoria wacana saat dia menduduki jabatan politis, kemudian Gusdur lebih betah menjadi politisi, meski tak meninggalkan perannya sebagai cendekiawan. Maka hadirlah prasangka, bahwa wacana Gusdur pasca lengser keprabon tak lebih dari upaya merebut lagi kekuasaan yang pernah digenggamnya.
Namun begitu, diakui, bahwa Gusdur cukup berhasil mendidik kadernya, hingga saat ini, banyak bermunculan para pemikir muda NU. Meski tak jarang kemudian, Gusdur dilawan muridnya sendiri, hal ini tercermin dalam praktik politis, baik di tubuh NU maupun di tubuh partai yang didirikannya.

Menolak Rezim, berpikir mandiri, mampukah?

Pasca Caknur & Gusdur, banyak pengaji keislaman yang meniru keduanya. Penerjemahan pemikiran Gusdur , di kalangan Pesantren, menjadi lumrah ketika dilihat dari tradisi Pensyarahan yang dilakukan para Ulama terhadap Matan (Kitab kecil karangan Ulama terdahulu). Tapi mensyarah, menerjemahkan pemikiran dari prilaku sang tokoh, dianggap sebagai apologi untuk membenarkan dan mempertahankan keagungan sang tokoh.
Demikian juga mengulang- ulang wacana seorang tokoh, tanpa upaya kritis untuk memperbaharuinya, sementara sang tokoh telah lama tiada, konon adalah sebuah kemunduran intelektual, lantas dapatkah kita berpikir kreatif, jika dalam wacana keagamaan kita harus selalu merujuk pada teks dan wacana terdahulu?



Tuesday December 12, 2006 - 05:51am (EST)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…