Langsung ke konten utama

Antara Islam Maniak dan Islam Phobia




Polemik tentang pemberlakuan syariat Islam kembali mencuat di negri ini. Secara historis, hal ini telah terjadi berabad-abad lalu. Kisah Wali songo, menyiratkan hal ini. Dalam berbagai babad disebutkan, sempat terjadi pertentangan antara Sunan Kudus, Sunan Giri dan beberapa muridnya dengan Sunan kalijaga, Sunan Gunung jati beserta pendukungnya. Pertentangan dipicu oleh pola penyebaran yang dipraktikkan oleh masing-masing kubu. Kubu sunan kudus berprinsip bahwa islam harus disampaikan sama persis dengan islam yang ada di timur tengah sehingga tradisi pribumi jawa harus di rubah. Kubu Sunan Kalijaga lebih akomodatif terhadap tradisi yang ada, mereka berdakwah lewat seni -diantara warisan sunan kalijaga adalah cerita wayang yang bernuansa islam-.

Pertentangan ini ternyata berlanjut hingga sekarang. jika masa pra kemerdekaan hingga tahun 70-an ada Muhammadiyyah dan NU yang berbeda paham. Kini, muncul berbagai organisasi keislaman yang saling berbeda haluan. Berkaca pada sejarah, wacana pemberlakuan Syariat Islam sempat menimbulkan keresahan di awal kemerdekaan. Hasilnya, tujuh kata dalam ‘Piagam Jakarta’ harus rela terhapus dari dasar negara Indonesia. Era otonomi daerah mebuka peluang bagi sebagian muslim yang rindu kejayaan masa lampau. Di pihak lain, merasa trauma terhadap wacana syariat yang dianggap mengancam keutuhan NKRI.

Dua kubu tersebut memiliki dasar yang sama kuat. Kubu pertama merujuk –secara tekstual- pada ayat hegemoni islam (Ali Imran;19) dan hadist tentang keunggulan generasi Nabi Muhammad beserta para sahabat dibanding generasi selanjutnya. Seolah menolak realitas perlsilangan sosial dan budaya global, sehingga harus menggantinya dengan Islam ‘otentik’ -Kaffah?- Kubu ini memungut doktrin,keyakinan dan sikap serta praktik masa lalu yang ‘suci’. Puritanisme menjadi konsekuensi dalam mempertahankan identitas agama dan tatanan sosial yang terancam arus globalisasi.

Kubu kedua lebih luwes terhadap pertukaran budaya selama tak mengikis islam secara substansial. Berpegang pada prinsip kebhinekaan yang diakui dalam Al-Quran (Al-Maidah; 48 dan Al-Haj; 67). Muhammad Abduh dan Jamluddin Al-Afghani bahkan berani berpendapat bahwa mengikuti perintah al-Quran tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri (13;11), umat Islam memerlukan orientasi normativ baru. Dengan jalan ijtihad tentunya.

Arkoun sejarawan al-jazair, justru mengkritik para pemikir islam kontemporer yang berusaha mensubordinasi akal pada keimanan, dan menggunakanya sebagai alat klarifikasi, konfirmasi dan administrasi keyakinan. Arkoun juga menggugat barat yang telah menggunakan superioritasnya untuk mengkerdilkan umat islam. Sekularisme, rasionalisme dan universalisme yang mengukuhkan sperioritas akal. Ia juga risau terhadap sebagian muslim yang, mengklaim adanya perbedaan antara muslim ‘sejati’ dengan islam ‘gadungan’, islam yang ‘benar’ dan kaffah dengan islam yang ‘sesat’ dan salah.


Mahdiisme dan sikap apatis masyarakat


Selain dua kubu tersebut, terdapat kubu lain yang merupakan sintesa dari keduanya, Mahdiisme, dan apatisme terhadap agama. Mahdiisme berawal dari kerinduan yang sama terhadap kejayaan lampau. Keyakinan akan hadirnya seorang pemimpin yang akan membawa kejayaan baru. Dalam islam, pemimpin tersebut dijanjikan bernama Muhammad Al-Mahdi. Keyakinan ini merujuk pada hadist bahwa diakhir jaman akan muncul pemimpin baru yang akan mengikis ketidak adilan di muka bumi, setelah kemunculan Dajjal. Sedang sikap apatis dari sebagian muslim, lebih diakibatkan oleh pengaruh tantangan globalisasi yang mengeliminir peran agama dalam kehidupan duniawi.

Realitas tersebut memaksa umat islam untuk bergelut mencari solusi. Perebutan wilayah doktrinisasi melalui kendaraan politik kembali terulang. Hasilnya adalah polemik tentang pemberlakuan syariat di tingkat Perda. Ketidakberdayaan sistem yang dijalankan pemerintah, memperkuat wacana ini. Secara psikologis, Ketertinggalan di bidang ekonomi, sosial dan politik menjadi alasan tersendiri untuk berlari kepada Tuhan. Sayangnya, syariat Islam yang diperdakan masih berkutat pada masalah kesusilaan tanpa melihat akar permasalahan tersebut dari sisi sosiologis dan buadaya yang ada di tengha masyarakat. Pemahaman tentang syariat Islam pun masih berkisar pada teori sanksi hukum bagi pelaku maksiat. Bahkan bentuk negara dan perangkatnya pun harus senada dengan istilah dalam Al-Quran (berbentuk khilafah, atau imamah). Syari’at Islam, seolah satu makna dengan Arabisasi.

Padahal, syariat islam dapat diberlakukan dalam bentuk peraturan ala Indonesia. Tanpa harus berkiblat pada negara-negara Timur tengah. Karena pada kenyataanya, Arab Saudi terkenal dengan otoritarianisme monarkinya, Iran terjebak dalam kepentingan satu kelompok muslim saja. Begitupun Irak yang harus hancur karena perang saudara.

Dan secara substansial, syariat islam telah berlaku di Indonesia sejak awal kemerdekaan, adanya sila Ketuhanan yang Maha Esa, UU perkawinan, UU KDRT, UU Perlindungan anak dan UU anti korupsi secara substansial selaras dengan syari’at Islam.

Mengenai teori kepemimpinan Islam, Khilafah, Imamah dan sejenisnya, secara essensial telah terbentuk dalam system politik di Indonesia. Presiden adalah khalifah, peran Wazir telah dipegang oleh menteri, Amirul Jihad adalah tentara, dan 17 kewenangan lainnya yang terdapat dalam sistim khilafah (versi Al-Mawardi dalam Al-ahkam assulthaniyyah), telah terrealisir meski dalam bentuk negara republik.

Lantas mengapa syari’at dianggap menimbulkan polemik?

Dalam tingkatan wacana, polemik yang ada berimbas pada pencerdasan masyarakat. Tapi ketika polemik tersebut beralih pada orientasi politik dan kekuasaan, maka pertarungan yang terjadi tak hanya perang ideology dan pemikiran, tapi akan mengimbas pada pertentangan horizontal secara fisik. Tindakan anarkisme oleh segelintir umat atas nama islam tak dapat dibiarkan berlanjut.

Seharusnya, masing-masing kubu berupaya mengarahkan masyarakat pada peraduan wacana dulu, tanpa sikap doktriner yang menafikan kubu lain. Islam sebagai ideology yang diyakini kebenarannya oleh setiap muslim aalah niscaya. Tapi sikap berislam terbenar, tak ada yang dapat mebuktikannya. Nabi Muhammad sendiri telah meramalkan tentang perbedaan antara ummat islam. Perbedaan ini akan menjadi rahmat manakala masing-masing kubu legowo bahwa ada kebenaran lain disamping kebenaran subjektif yang diyakininya. Karena kebenaran sesungguhnya adalah milik Allah.


Komentar

maulana mengatakan…
Asslm. salam kenal.
Sebelumnya, aku harap tulisanku ini tidak dianggap sebagai klaim kepada siapapun, khususnya penulis. Aku terinspirasi dari tulisan saudaraku Malik akan suatu penyakit yang melanda para pemikir muda dijaman sekarang.

Mengenai pertentangan para wali, aku agak khawatir dengan penangkapan faham dari pembaca menjadi terkesan negatif, bahkan sampai menyepelekan Ulama. Setahuku walau para Wali berbeda pendapat, tapi mereka tetap dalam hubungan musyawarah yang baik. Setiap keputusan adalah hasil musyawarah diantara mereka yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Aku khawatir justru pemikiran kita sendiri yg memisah2kan atau mengkubu2kan mereka.

Sebenarnya untuk dapat memahami sesuatu terutama yang menyangkut menilai para Ulama, apalagi seorang Wali, dibutuhkan dasar sangka baik yang besar, adab-adab yang baik, penghormatan yang baik, karena hikmah tidak akan dipahami dari pola pikir yang didasari hati yang sombong, menyepelekan, atau niat yg tidak lurus. Karena jika tidak, dapat menimbulkan salah tafsir. Mudah2an hal negatif tersebut tidak ada dalam diri kita.

Perbedaan antara pemikiran filsafat dan pemikiran orang yg beriman adalah di niatnya, sehingga beda warna antara pemikiran yg tujuannya mencari pujian karena kepintaran atau intelektualitasnya, dengan pemikiran berdasarkan petunjuk dan bimbingan dari Alloh.
Memahamkan sesuatu kadang tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit. Walau menggunakan bahasa yg sederhana, tapi sampai kepada orang lain, lebih bijaksana dibanding bahasa tinggi tapi tidak menyentuh dasar hati.

Terimakasih atas tulisannya.
Wassalam.

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…