Langsung ke konten utama

Postingan

Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa calon pemimpin yang layak. Ketimbang adu jargon, tebar spanduk dan adu kuat polling, lebih baik tunjukkan keberpihakan kalian pada rakyat dengan membantu upaya mereka menghalau para pemodal yang ingin mengeksploitasi tanah Banten tanpa prinsip keadilan. Usah saling tuding soal siapa berwenang. Sebab para kandidat yang hendak bertarung di Pilkada Banten nanti, punya kuasa di eksekutif, legislatif maupun di tengah kultur kejawaraan yang masih kental di Banten.

Menyimak ceramah mukaddimah dalam klip ini, teringat perjuangan sahabat di Rembang, Karawang dan Pandeglang. Korporasi yang membawa setumpuk janji kesejahteraan, yang kemudian malah (terkesan) melahirkan keringat darah buruh, mengeringkan lahan petani. Perlu analisis mendalam terkait manfaat dan mafsadat dari kehadiran para pemodal yang (kadang) tak beradab dan regulasi ekonomi lokal, nasional maupun in…
Postingan terbaru

*Nusron Tandjung*

Lagi rame soal Nusron Wahid (NW) yang memang bukan keluarga sedarahnya Gus Dur. Tentang NW, ini ada cerita kocak soal nama Wahid di belakangnya.  Pasca pelengseran Presiden RI Ke IV, NW yang kala itu menjabat Ketum PB PMII, dinilai tidak tegas membela Gus Dur, bahkan terkesan berselingkuh dengan Ketua DPR RI dari Golkar, Akbar Tandjung. Saat itu, tersiar kabar bahwa Gus Dur marah besar pada NW. Tetapi NW tetap nekad sowan ke Gus Dur. Kedatangan NW di Ciganjur, disambut bisik-bisik dan prediksi, bahwa NW kali itu bakal mati kutu dimarahi Gus Dur. "Saya Nusron Gus," kata NW mencium tangan Gus Dur. Dengan gaya acuhnya, Gus Dur menjawab, "Kamu itu sampah sron."  NW yang dikenal cerdik, segera menyahut, "Sampah juga kan bisa didaur ulang Gus," kata NW.  Gus Dur diam, kemudian NW kembali berujar, "Gus, saya ini memang gak pantas menyandang nama besar keluarga Kyai Wahid Hasyim. Makanya besok saya mau ganti nama jadi Nusron Tandjung."  Gus Dur pun terbahak da…

Lagi-Lagi ToA

Ini ke sekian kalinya saya menyimak keluhan tentang ToA. Dulu saya sering bertanya, apakah iman ini menghilang atau hati ini terlampau keras, ketika gema ToA terdengar bising dan bikin jengah? Pernah juga minder, apa yang salah dengan rasa dan pendengaran saya? Kok bisa suara yang datang dari rumah ibadah; musholla, majelis atau bahkan masjid, terasa tak nyaman. Tapi resah itu sirna, ketika mendengar lantunan merdu nan fasih dari ToA di kampung Bapak, di Cirebon. Menurut paman, di musholla kampung itu, memang ditradisikan, pelantun adzan harus terlatih. Volume ToA pun diatur sedemikian rupa, sehingga tidak bikin pekak telinga. Alhamdulillah, rupanya imanku masih utuh! Lantas yang bikin jengah itu apa? Ternyata benar kata Gus Roy Murtadho, volume ToA yang disetting tanpa mengindahkan kenyamanan pendengar, ditambah lantunan adzan, solawat atau ayat suci yang dibaca sembarangan dan mengabaikan kaidah tajwid lah yang bikin hati mangkel mendengarnya. Sekali waktu, saya berbincang dengan se…

Mamah Punya Strategi

Ada fenomena baru di kalangan pecinta dangdut. Dalam berbagai event Organ tunggal, Koplo atau Pongdut (Jaipong Dangdut) hingga Rockdut (Rock Dangdut), tak lagi didominasi bapak-bapak yang 'nyawer' bersama penari panggung.
Kini kaum ibu, terutama kalangan mamah-mamah muda, yang berjilbab sekalipun, mulai merangsek, turut bergoyang bersama para penyanyi seksi. Mulanya, saya mengira ini fenomena degradasi sakralitas jilbab. Dari diskusi ringan sore ini, ada simpulan sementara, bahwa akuisisi panggung dangdut oleh kalangan Mamah berjilbab, bukan lantaran hobi semata. Tapi merupakan strategi para ibu buat menetralisir hasrat kaum bapak buat bersenggolan dengan para biduan seksi. K.H. Abdurrahman Wahid dalam ceramahnya (dokumentasi pojok Gus Dur) pernah mengkritisi maraknya kursus tari balet di negeri ini. "Balet itu, butuh kaki yang kecil. Kenapa orang Indonesia tak mengembangkan kursus goyang dangdut?" Kini terjawab, kaum ibu pun butuh kursus goyang dangdut buat mencega…

Pokemon dan Kehampaan Massal

Pernah jengah dengan hari-harimu? Semacam kehilangan semangat dan tujuan hidup gitu. Disorientasi, semi depresi, kata psikilog.
Aku sering merasakannya. Tapi biasanya gak berkelanjutan. Hanya terasa hampa sesaat.Hampa tak melulu dipicu kasmaran. Mereka yang punya banyak kekasih pun kerap ditimpa kekosongan jiwa. Belakangan, aku sering melihat kaum urban didera galau, yang mereka bilang sulit dipahami penyebabnya.Sebagian, mengurai galau itu pada pencarian spiritualitas, merajinkan diri menyimak berbagai kajian keagamaan,  menekuni ibadah, tepekur, sampai ada yang nekad meninggalkan kariernya buat penuhi dahaga spiritualitas. Sebagian lain, memilih hiburan malam, berkecimpung di komunitas-komunitas petualangan, tenggelam dalam game-game arcade, playstation atau MROPG, seperti Pokemon, Ingress,  hingga permainan judi yang kini mudah diunduh di Ponsel pintar. Tak heran, jika setiap tahun, ada saja game atau aplikasi Ponsel yang booming dan bikin kecanduan masyarakat dunia. (bersambung..…

Godaan Cinta di Pesantren

Ini cerita lama tentang Film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang dibintangi Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo yang ngetrend di awal abad 21 lalu. Mengingat film AADC itu, ane terkenang sama cerita cinta yang kandas di pesantren. Jadi ceritanya, sejak SMP, berkat buku diary yang dihadiahkan seorang abang tercinta, santri kecil ini kemudian jadi doyan curhat lewat tulisan. Dari hal terindah, isi pidato kiai, sampai keluh kesah dan kebenciannya pada sejumlah kawan ditumpahkan di buku diary merah. Sampai kemudian seorang kawan yang menjadi obyek curhatannya itu tak sengaja membaca buku diary si santri. Di buku itu, diceritakan sang kawan dituduh nyolong oleh kepala kamar. Maka sewotlah sang kawan tersebut. “Kamu kok ikut-ikutan nuduh aku nyolong sih?” “Loh, aku gak tau kok. Aku Cuma denger kata kawan-kawan aja,” jawabku. “Itu yang kamu tulis di buku merah. Kamu bilang besar kemungkinan akulah si pencuri itu. Terus kamu juga ternyata kamu juga benci sama si anu ya. Sampe kamu bilang d…

Perempuan Bertopeng

Sejak bulan lalu, gue punya temen baru. Kami kenalan ketika makan siang bareng di sebuah kantin yang tak jauh dari tempat kerja gue saat ini. Awalnya cuma basa-basi karena duduk satu meja tanpa sengaja. Lama-kelamaan, kami sering makan siang bareng, atau terkadang pulang bersama dengan KRL atau busway. Sebut saja namanya, Tari. Tulisan ini mulanya mau dibuat semacam cerpen fiksi, tapi malah jadi kaya artikel. Tulisan sudah dapat izin dari si empunya cerita. Tentu dengan syarat identitas yang disamarkan. Tapi anggap saja cerita ini fiktif belaka.  Tri bekerja sebagai konsultan teknik di sebuah perusahaan elektronik. Keahliannya dalam menganalisis kerusakan mesin, terbilang sebagai keahlian yang mahal. Kemampuan berbahasa asingnya juga membuat Tari dibayar mahal dalam setiap project yang digarapnya. Belum lagi jaringan alumni kampus yang kini banyak bertengger di berbagai lembaga konsultan ternama, siap membantunya untuk bekerja di sektor apapun. Kebutuhan finansialnya bisa terpenuhi denga…

Berbukalah dengan yang Sinis

Suatu senja saat menanti waktu berbuka, dua pemuda terlibat obrolan panas tentang sosok flamboyan mas @kokokdirgantoro pengusaha muda nan sukses yang ramai digosipkan aktivis linimasa sebagai kolektor Alphard. Diselingi seruputan kopi ucapan istighfar, seorang kawan menghujat tulisan @Armanddhani dan @WinduJusuf di portal Mojok.co, sebagai sarana propaganda pemurtadan yang terbit untuk mendukung perpindahan keyakinan Lukman Sardi.
“Ini konspirasi Bung. Lihatlah, setelah terbit tulisan Rabun Dekat dan Dua Juta Orang Murtad, sepekankemudian publik digegerkan pengakuan Lukman Sardi disusul oleh pembelaan @Armanddhani yang seolah disetting untuk menggiring opini tentang lumrahnya gonta-ganti agama,” kata @Sarmud, Baladewa dan fans berat GIGI yang pernah kecele, salah follow akun @Armanddhani karena dikira band baru, gabungan @armandmaulana dan @AHMADDHANIPRAST.
Enggaklah Bro. Itu kebetulan saja. Kebetulan yang membawa hoki buat Mojok.co karena opini-opini yang diterbitkannya jadi hangat …